Tags

, , , , ,

white-lotus

Tittle : White Lotus

Author : JHM

Main Cast : Kwon YuRi, Cho KyuHyun.

Other Cast : Kwon Sung Ha, Tiffany Hwang, Lee Donghae, Choi Siwon and Other.

Lenght : Chaptered.

Rating : PG 13+

Happy Reading~

“Beberapa jalan yang indah tidak dapat ditemukan tanpa tersesat terlebih dahulu.”

-0-

Diruang berukuran standar kelas pada umumnya, disanalah materi pelajaran tengah berlangsung. Semua murid duduk memperhatikan penjelasan yang diberikan oleh gurunya. Separuh perhatiannya juga ditujukan pada buku masing-masing. Di kursinya, Yuri tertegun. Otaknya tengah mencoba mencerna setiap kalimat yang dilontarkan oleh sang guru.

“Baiklah, sekarang selesaikan soal di papan tulis.” perintah sang guru.

Seluruh siswa serentak mengangguk dan bergegas menyelesaikan beberapa soal yang telah diberikan gurunya. Begitupun juga dengan Yuri, ia sangat antusias jika mengenai pelajaran matematika, pelajaran favoritnya. Hampir seluruh teman kelasnya selalu mengandalkan Yuri jika sudah bertemu dengan deretan angka yang mungkin beberapa anak hampir frustasi melihatnya. Ditambah dengan banyaknya rumus matematika yang tidak menyenangkan, bahkan untuk dipandang. Tapi tidak bagi Kwon Yuri, gadis itu sangat menyukai semua hal yang berhubungan dengan angka, entahlah.

Tiffany mendengus kesal, selalu seperti ini jika saat matematika. Ia selalu kalah dengan Yuri, tidak hanya matematika bahkan hampir semua pelajaran, Yuri selalu berhasil menguasainya dengan baik. Terkadang, Tiffany merasa kasihan kepada Yuri, karena kepandaiannya selalu dimanfaatkan oleh sebagian teman kelasnya.

“Kau tidak mengerjakan?” Yuri menoleh sedetik menghadap Tiffany, lalu matanya kembali fokus pada lembar kerjanya.

“Soalnya terlalu sulit.” Tiffany menjawab dengan memainkan pensilnya.

“Kau sendiri yang selalu membuatnya sulit.”

“Apanya, tanpa kubuat sulitpun, matematika memanglah sulit, sangat sulit.” jawab Tiffany enteng.

Yuri menutup rapi bukunya, menandakan bahwa ia sudah tuntas mengerjakan soalnya. “Buang jauh-jauh sifat malasmu itu.” Jemarinya ditempelkan pada dahi Tiffany. “Dahimu lebar, itu tandanya kau pintar.”

Tiffany mengernyit tak mengerti. “Apa hubungannya?” Tangannya bergerak mengambil buku milik Yuri dan berniat menyalin jawaban sahabatnya yang dijamin benar.

Tapi belum sempat Tiffany menulis, sebuah tangan lain mengambil buku milik Yuri secara tiba-tiba, tanpa izin dan permisi. Membuatnya reflek berdiri dari bangkunya.

“Yaa~!” protes Tiffany dan menatap tajam anak yang dengan seenaknya mengambil buku sahabatnya. “Kau tak liat kalau buku itu masih kupakai hah? Seenaknya saja kau mengambilnya, kembalikan!”

Tiffany hendak mengambil alih buku Yuri, namun genggaman tangan yang terasa hangat menahan gerakannya. “Biarlah.” lirih Yuri dengan senyum tipis diwajahnya.

“Kau liat sendiri kan, Yuri tak masalah.” Gadis yang tak punya sopan santun itu tersenyum mengejek kepada Tiffany, membuat gadis bermarga Hwang itu semakin geram.

“Duduklah.” Yuri menarik pergelangan tangan Tiffany untuk kembali duduk.

“Kau kenapa selalu begini Yul? Kau tau, jika terus seperti itu maka kau akan semakin diremehkan oleh mereka.” Tiffany terus mengomeli Yuri.

Yuri tersenyum lembut dan menggenggam jemari Tiffany dengan menatap manik matanya. “Aku tak ingin kita memiliki masalah dengan mereka hanya karena masalah sepeleh. Biarlah, mereka belum sampai menyentuhku dan selagi itu tak terjadi tak masalah bukan?”

Tiffany menatap kagum pada sosok gadis dihadapannya. Inilah yang menjadi kebanggan dirinya karena bersahabat dengan Yuri. Gadis itu tak pernah menuntut, selalu sabar saat diberi perlakuan apapun, dan tak lupa disaat seperti itupun senyum diwajahnya tak pernah pudar.

Dengan sekali tarikan, Yuri kini berada dalam pelukan Tiffany. “Ayolah Tiffany sayang, kau sungguh terlalu.” kekeh Yuri.

Tiffany memukul pelan punggung Yuri. “Kau ini tak pernah serius.”

Tawa Yuri meledak. “Aku selalu serius sayang. Kurang serius apa aku padamu.”

“Berhentilah tertawa Kwon Yuri. Tawamu palsu.”

Seakan disihir, Yuri langsung terdiam. Ia mencoba mencerna kalimat Tiffany, tawamu palsu. Dalam hatinya ada sesuatu yang menusuk, sakit. Memori otaknya memutar kembali kejadian masa lalunya, menyedihkan. Yuri menggeleng dan menatap langit-langit kelasnya. Mencegah air matanya agar tidak keluar. Tidak untuk saat ini, control your self Yuri.

“Yuri..” Tiffany melihat perubahan wajah Yuri. Tangannya mengelus lembut punggung sahabatnnya. “Ada apa? Maafkan jika perkataanku menyakitimu, aku ti-“

“Diamlah, kau berisik.” Yuri membungkam mulut Tiffany dengan tangannya. “Bukankah tugasmu belum selesai, cepat kerjakan setelah itu kita ke kantin, aku lapar.”

“Iya-iya, dasar nenek tua cerewet.” Tiffany mencibir, sedangkan Yuri hanya mampu menggelengkan kepalanya.

-0-

Yuri dan Tiffany menikmati makan siangnya dengan duduk disalah satu bangku kantin. Keduanya terlihat begitu serius menyantap makanan yang dibawanya. Walau sudah kelas tiga dan tak lama lagi akan lulus, namun kebiasaan mereka membawa bekal dari rumah tidak berubah. Selain itu mereka juga dapat menghemat uang dan membiasakan diri untuk tidak meminta lebih kepada orang tua. Walau tak diragukan lagi, keduanya adalah anak dari keluarga kaya.

“Yuri..”

Yuri menoleh ke sumber suara saat merasa namanya disebutkan.

“Joy..” Bibir Yuri melengkung ke atas saat mendapati temannya dari kelas sebelah datang menghampirinya.

Tiffany juga memberikan senyumnya kepada gadis bernama Joy tadi. Lalu memberi Joy tempat duduk disebelahnya. Yuri dan Tiffany memang tidak sekelas dengan Joy, namun bisa dibilang mereka cukup dekat. Hampir setiap jam istirahat Joy selalu bersama dengan Yuri dan Tiffany.

“Kalian berdua saja?” Joy memposisikan duduknya disebelah Tiffany.

“Kau juga sendiri saja?” Canda Tiffany.

Joy menanggapinya dengan senyuman.

“Ah, kau tidak membawa bekal?” Yuri bertanya karena dia mendapati Joy datang dengan tangan kosong.

Joy menggeleng pelan. “Tidak, aku tadi kesiangan, jadi tidak sempat menyiapkannya.”

Yuri sudah menebak dari awal, setiap kali Yuri bertanya tentang hal itu, Joy akan menjawab pertanyaannya dengan jawaban yang sama dengan hari-hari sebelumnya. Sejak itu Yuri mengerti alasan Joy saat istirahat selalu sendiri dan memilih bergabung dengan Yuri dan Tiffany. Yuri juga sangat mengerti bahwa kehidupan keluarga Joy berbeda jauh dengannya. Mengingat itu, Yuri selalu mengucapkan banyak-banyak syukur karena faktanya hidupnya jauh lebih baik dari yang ia bayangkan.

Tiffany mengambil sebuah kotak bekal dari dalam tas kecilnya, lalu memberikannya kepada Joy.

“Makanlah Joy, ibuku tadi memasak banyak dan aku membawakannya untukmu.” Nada Tiffany terdengar begitu lembut dan tulus.

Joy menerimanya dengan wajah malu bercampur tak enak. Dirinya merasa selalu merepotkan Yuri dan Tiffany.

“Makanlah Joy.” Titah Yuri pelan.

Yuri dan Tiffany selalu bergantian membawa dua bekal. Jika hari ini Tiffany, maka hari esoknya Yuri. Itu mereka lakukan bukan semata-mata untuk merendahkan Joy, tapi mereka melakukannya karena mereka sadar bahwa sudah seharusnya menolong dan membahagiakan orang lain selagi mereka bisa. Tidak ada salahnya bukan, apalagi itu hanya sebuah bekal makanan, tidak lebih.

“Terimakasih..”

Yuri dan Tiffany menoleh secara bersamaan. “Sama-sama..”

-0-

Gemuruh tepuk tangan menggema di ruangan berukuran besar yang dipenuhi oleh banyak orang, mulai dari siswa-siswi, guru pengajar, hingga masing-masing orang tua murid. Diselimuti suasana khidmat, acara wisuda jenjang sekolah menengah atas telah berjalan dengan lancar.

Siswa-siswi tampak memancarkan raut wajah bahagia, dari tersenyum hingga menangis terharu. Bagaimana tidak, kelulusan adalah hal yang paling dinantikan oleh seluruh pelajar. Dan dalam hal ini, orang tua juga turut merasakan kebahagiaan anaknya.

Bertahun-tahun menempuh jenjang sekolah, banyak hal yang dilalui dengan suka maupun duka. Jam pembelajaraan, tentunya tidak semua mata pelajaran menjadi favorite seorang pelajar. Prestasi, setiap kelas pasti memiliki seorang yang dapat diandalkan. Teman, banyak yang menyebutnya dengan persahabatan, tidaklah senang memiliki persahabatan dalam jangka waktu lama, hanya mereka yang kuat dan setia hingga mampu berdiri dalam persahabatan.

“Selamat Tiffany Hwang..”

Setelah acara wisuda sudah berakhir, tujuan pertama Yuri adalah Tiffany. Ia langsung berlari ke arah Tiffany guna memberi ucapan selamat kepada sahabat yang bisa menjadi siapapun dan selalu ada untuk Yuri.

“Selamat juga untukmu Kwon Yuri..”

Keduanya saling berpelukan mengungkapkan rasa bahagianya.

“Rasanya baru kemarin kita makan dikantin bersama Joy.” Tiffany melepaskan pelukannya dan nampak jelas raut bahagia diwajahnya.

Yuri mengangguk tersenyum. “Aku juga merasa begitu.”

“Ngomong-ngomong dimana Joy, aku tidak melihatnya sama sekali.” Mata Tiffany berkeliling keseluruh penjuru ruangan.

“Aku juga tidak melihatnya.” Yuri juga melalukan hal yang sama dengan Tiffany.

“Tiffany!” Seru seorang wanita paruh baya.

Tiffany sangat menghapal suara itu. “Iya, Bu!”

“Mari pulang.” Perintah wanita itu mengajak Tiffany untuk bergegas pulang.

Tiffany menatap Yuri. “Apa kau tidak apa-apa jika kutinggal sendiri?”

Yuri terkekeh pelan. “Hey Tiffany Hwang, aku sudah besar. Pulanglah! Aku akan menunggu Ayahku datang.”

“Betul tidak apa-apa?”

Yuri mengangguk mantap. “Cepatlah, jangan biarkan ibumu terlalu lama menunggumu.”

Tiffany hambur memeluk Yuri.

“Kita akan sering bertemu kan?” Bisik Tiffany pelan disela pelukannya.

“Tentu, kenapa tidak.” Yuri menjawab dengan penuh keyakinan.

“Baiklah, sampai berjumpa kembali, aku akan sangat merindukanmu.” Terakhir, Tiffany mempererat pelukannya dengan Yuri.

“Me too..” Yuri tertawa pelan menyadari tingkah Tiffany.

Tak berselang lama, lelaki paruh baya datang mendekati Yuri dan menepuk pelan pundaknya.

“Sayang..”

Yuri sedikit terjingkat kaget, namun rasa kagetnya seketika berubah saat mendapati lelaki yang begitu berharga dalam hidupnya tengah memandangnya dengan senyum merekah diwajahnya.

“Ayah..”

Yuri langsung menelusupkan tubuhnya ke dalam dada Ayahnya. Yuri memang paling suka melakukan hal itu, setiap kali melihat Ayahnya datang Yuri akan selalu memeluknya. Dan Ayah Yuri sangat tidak keberatan akan hal itu, karena itu membuatnya semakin mencintai putrinya.

Kwon Sung Ha begitu sangat menyayangi Kwon Yuri, walaupun ia juga memiliki seorang putra, namun rasa cintanya untuk Yuri begitu berbeda. Tapi bukan berarti Sung Ha tidak menyayangi putranya, hanya saja Yuri memiliki tempat yang istimewa baginya. Sung Ha juga tidak mempunyai alasan jika menyangkut hal yang satu ini.

“Selamat untuk kelulusanmu sayang..”

Sung Ha tak henti-hentinya mengelus dan mengecup anak rambut Yuri. Rasanya baru semalam Yuri merengek meminta susu padanya. Tapi sekarang Yurinya sudah tumbuh dewasa dan lulus dari sekolah menengah atas.

“Terimakasih Ayah..”

Keduanya terlihat begitu bahagia tanpa ada beban sedikitpun diwajahnya.

Tepat beberapa meter dari tempat Yuri dan Sung Ha, tiada yang tau bahwa seseorang tengah menatapnya serius dengan pandangan yang sulit untuk diartikan. Mendadak kedua tangannya mengepal melihat kemesraan ayah dan anak itu.

“Kwon Sung Ha.” Lirihnya begitu pelan dengan nada yang terdengar begitu sinis dan menyakitkan.

-0-

Ponselnya nyaris terlepas dari genggaman saat mendapat kabar itu. Hal itu tidak mungkin terjadi, ia tidak bisa percaya. Tapi penjelasan dalam telepon tadi terdengar sangat meyakinkan, orang itu tidak mungkin berbohong atau sekedar mengarang cerita untuknya.

Tanpa pikir panjang, Yuri bergegas pergi. Tak peduli dengan sekitarnya, bahkan ia mengabaikan teriakan teman-temannya, meninggalkan mereka dengan penuh tanda tanya. Yang ada dipikarannya saat ini hanyalah satu, Ayah. Dalam hatinya terus memanjat doa, berharap hal buruk tidak terjadi.

Sepanjang perjalanan Yuri terus berpikir tentang kondisi Ayahnya. Bagaimana hal buruk itu bisa menimpa Ayahnya? Mendadak semua otaknya dipenuhi oleh wajah Ayahnya. Yuri terlalu takut karena ini kali pertama Ayahnya mengalami kecelakaan. Namun Yuri segera membuang jauh-jauh pikiran buruknya, tampak jelas raut wajahnya menggambarkan kegelisahan. Tidak bisakah ada solusi terbaik untuknya.

Pikirannya sangat kacau hingga tidak memperhatikan jalan dengan benar, hampir saja Yuri menabrak seorang penyebrang jalan. Namun dengan cepat ia dapat mengindarinya, sehingga tidak sampai terjadi masalah. Rasa pedih dan segenap kekhawatiran dalam batinnya berwujud dalam air mata yang berakhir membasahi pipi mulusnya.

Setibanya dirumah sakit, setelah memarkirkan mobilnya. Yuri langsung melesat menuju ruangan UGD, dilihatnya beberapa kerabat dan rekan kerja Ayahnya sudah berkumpul. Melihat kedatangan Yuri, salah satu dari mereka berdiri menghampirinya. Yuri sangat mengenal orang yang saat ini berjalan mendekatinya, Lee Minho, sahabat dekat Ayahnya. Sebelah tangannya mengusap pipinya yang basah.

“Yuri..”

“Paman, bagaimana kondisi Ayah?” Raut kekhawatiran nampak jelas diwajah Yuri.

“Dokter sedang menanganinya. Semua akan baik-baik saja, percalayalah.” Minho menjawab dengan yakin.

Tubuhnya semakin dekat dengan Yuri, memperkecil jarak antara keduanya. Dan dalam hitungan detik, Yuri telah berada dalam pelukannya. Minho merengkuh Yuri dalam dekapannya, menyalurkan kekuatan dan memberi semangat untuk Yuri.

“Ayahmu adalah orang yang kuat, kau tau itu kan?” Dengan lembut Minho mengusap lembut anak rambut Yuri.

Yuri mengangguk disela isak tangisnya. “Terima kasih..”

“Paman, bagaimana bisa kejadiaan seperti ini terjadi pada Ayahku?” Lanjutnya sembari melepaskan tubuhnya dari dekapan pria dihadapannya.

Minho menceritakan semua kejadian dari awal hingga akhir tanpa terkecuali. Yuri terhenyak mendengarnya. Belum hilang rasa kagetnya, seorang dokter keluar dari balik pintu UGD. Buru-buru Yuri menghampirinya dan siap menghujani dokter tersebut dengan beribu pertanyaan mengenai kondisi Ayahnya.

“Dokter, bagaimana kondisi Ayahku?”

“Apa anda putri dari pasien?” Tanya sang dokter menatap Yuri.

Yuri mengangguk mantap.

“Hanya satu orang yang diizinkan menemani pasien.”

Tanpa dikomando, Yuri langsung masuk ke dalam ruangan tempat dimana Ayahnya dirawat. Seketika Yuri terdiam melihat kondisi Ayahnya. Terlalu banyak luka ditubuhnya, bekas darah yang sudah dibersihkan masih bisa terlihat. Kepalanya tampak dililit perban. Selang oksigen terpasang dihidungnya. Layar monitor pemantau menunjukkan tanda-tanda pasien masih bernafas.

Yuri menutup mulutnya kaget. Benarkah orang yang tergeletak tak berdaya diranjang itu adalah Ayahnya. Benarkah itu Ayahnya, Kwon Sung Ha? Tidak. Tidak Mungkin. Yuri menggeleng tak percaya. Tangisannya tak dapat lagi dibendung, justru semakin menjadi. Perasaannya berkecamuk melihat orang yang sangat disayanginya terbaring tak berdaya dengan kondisi menyedihkan.

“Ayah..” Yuri terduduk tepat disebelah ranjang Sung Ha, tangannya yang bebas menggenggam tangan milik Sung Ha. Bahkan tangan hangat ini telah berubah menjadi sangat dingin.

“Ayah, bangunlah! Bukankah tadi Ayah berjanji akan menemaniku makan siang, aku tau Ayah tidak akan melanggar janji bukan? Bangunlah Ayah, ini aku Yuri, Kwon Yuri putrimu.” Yuri mengangkat kepalanya menatap Sung Ha.

Tak ada pergerakan dari Sung Ha. Matanya tetap terpejam.

“Ayah sadarlah, setidaknya katakan padaku bahwa Ayah dalam keadaan baik-baik saja. Kenapa sekarang kau jadi lemah, tidak seperti Kwon Sung Ha biasanya? Ayah..” Suara Yuri berubah serak dengan kedua matanya yang memerah, ia hanya mengharapkan kesadaran Sung Ha, hanya itu.

“Sadarlah Ayah..” Bisik Yuri lirih dan kepalanya tertunduk lemas diranjang sebelah tubuh Sung Ha.

Yuri membelai lembut tangan dingin milik Sung Ha. Mendadak memorinya berputar mengenang masa lalunya bersama Sung Ha. Dulu, saat Yuri menangis terjatuh dari sepedanya, Sung Ha selalu datang dengan membawa permen kesukaannya. Jika Yuri tidak mau mandi, Sung Ha dengan sabar membujuknya dengan segala macam cara. Ayahnya itu selalu menuruti semua yang diinginkan oleh Yuri dan dirinya juga selalu menepati apa yang ia janjikan.

Sung Ha memang dikenal dengan pribadi yang jujur, tidak ada yang meragukan akan hal itu. Semua orang dapat dengan mudah percaya padanya karena sifatnya itu. Termasuk Yuri, dia percaya, sangat percaya pada Sung Ha. Dibalik tangisnya, Yuri tersenyum jika mengingat masa-masa indah bersama Ayahnya.

“Ayah, kau pasti sadar kan? Yuri yakin Ayah akan sadar dan tau aku disini lalu Ayah akan memelukku dan berbisik bahwa Ayah menyayangiku.” Yuri terkekeh kecil membayangkan kebiasaan Sung Ha saat Yuri membangunkannya.

Tanpa Yuri sadari, Sung Ha mendengar semua perkataan Yuri. Ada butiran bening menyelinap di ujung matanya dan jatuh membasahi pipinya. Dirinya sangat ingin bangun dan memeluk erat putrinya. Tapi semua syarafnya terasa lumpuh. Seluruh tubuhnya seakan mati rasa.

“Yuri, Ayah menyayangimu..”

Yuri terus membelai lembut tangan Sung Ha. Mendadak ia merasakan tangan Sung Ha bergerak-gerak. Membuat Yuri menegakkan tubuhnya dan semakin erat mengenggam tangan Sung Ha.

“Ayah..”

Dengan cepat Yuri menekan tombol untuk memanggil dokter. Tangannya tak pernah dilepaskan dari Sung Ha. Wajah Yuri terlihat sangat panik dan khawatir. Sesekali matanya melirik pada monitor disamping ranjang. Segera ia buang jauh-jauh firasat buruknya.

Tak lama dokter datang dan langsung mengecek kondisi Sung Ha. Yuri dengan terpaksa melepas genggamannya dan sedikit menjauh. Matanya tak pernah terlepas dari Sung Ha. Tangisannya semakin menjadi, juga tak henti-hentinya ia berdoa, semoga Sung Ha selalu dalam lindungan Tuhan.

Tiba-tiba monitor disamping ranjang mencicit panjang dan layarnya terbentuk garis mendatar. Yuri semakin panik. Dengan sekuat tenaga dan bantuan alat medis, Dokter berusaha melakukan yang terbaik untuk Sung Ha. Suasana diruangan itu semakin menengangkan. Tangisan Yuri semakin tak terkedali, ia terduduk lemas bersandar pada dinding ruangan. Kedua matanya terpejam bersamaan dengan kedua tangannya saling bertautan dan memanjatkan doa yang terbaik untuk Sung Ha.

“Pasien..” Dokter itu membalikkan badannya dengan pasrah.

Yuri membuka kedua matanya, aura negatif mulai bergelayutan dalam pikirannya. Suara dokter itu jelas terdengar lirih dan pasrah, seakan memberikan pertanda. Dengan keberanian, Yuri menanyakan kondisi Sung Ha.

“Dok? Ayahku baik-baik saja kan?” Yuri bertanya sesenggukan dengan kedua matanya yang memerah.

Dokter menggeleng lemah. “Maaf..”

Bagai dihantam batu besar, satu kata itu berhasil membuat dunia Yuri hancur. Tidak. Tidak mungkin. Tidak mungkin itu tejadi secepat ini. Tubuhnya mendadak lemas dan merosot kebawah. Kepalanya menggelang kuat. Kedua tangannya menutupi seluruh wajahnya. Yuri menangis merasakan kesedihan yang mendalam. Semua terasa begitu cepat. Ia tak menyangka satu-satunya orang yang disayanginya telah pergi meninggalkannya dengan cepat.

Sung Ha pun pergi untuk selamanya.

-0-

Acara pemakaman Sung Ha telah selesai, tapi butiran air mata tak ujung henti dari bola mata Yuri. Ia merasakan kepedihan yang teramat dalam atas kepergian Sung Ha. Banyak rekan kerja Sung Ha yang datang ke acara pemakaman untuk melayat. Dan satu per satu dari mereka nampak mulai meninggalkan areal pemakaman.

Tidak dengan Yuri, ia sama sekali tak merubah posisinya. Dirinya masih bertahan disamping gundukan tanah yang bertabur bunga itu. Yuri memandang foto Sung Ha yang berada didepan batu nisan bertuliskan nama Kwon Sung Ha, tatapannya nanar.

Waktu adalah hal yang mengerikan, karena kesedihan dan kegembiraan akan pergi serta hilang bersamanya. Sesekali Yuri menghela napas, rasanya sulit untuk mempercayai kenyataan bahwa Sung Ha telah tiada. Satu-satunya orang tua yang dia miliki di dunia ini hanyalah Sung Ha. Setelah ini Yuri hanyalah sebatang kara dan mulai detik ini hidupnya juga akan berubah. Ah tidak, Yuri lupa bahwa faktanya dia mempunyai seorang kakak lelaki. Tapi disaat seperti inipun, kakaknya itu terlihat seperti tidak ada yang terjadi. Bagi Yuri, mungkin disitulah letak perbedaan dirinya dengan kakaknya.

Tepat beberapa meter dari makam Sung Ha, Donghae mengamati Yuri dari sana. Ketika melihat saudaranya berduka, Donghae juga merasakan hal yang sama. Ia paham apa yang dirasakan oleh Yuri ketika kehilangan orang yang sangat disayangi. Dan rasa sakit akan kehilangan itu akan berujung dengan derai air mata. Juga bukanlah perkara muda untuk melupakannya.

“Yuri..” Donghae melangkahkan kakinya mendekati Yuri, lalu memposisikan diri tepat disamping adiknya itu.

Yuri menoleh sekilas. Setelahnya ia kembali menatap gundukan tanah dihadapannya.

“Pulanglah Oppa!” Lirihnya.

Donghae menggeleng. “Aku akan menemanimu.”

“Bagaimana jika aku tidak ingin kembali?”

“Aku akan tetap disini, bersamamu.” Donghae tersenyum menepuk pelan pundak Yuri.

Yuri ikut tersenyum. “Terima kasih, setidaknya aku tidak merasa sendiri.”

Donghae manatap Yuri iba. “Yuri, kau tidak akan pernah sendiri. Ingat itu!”

Yuri mengusap pipinya yang basah, lalu menolehkan kepalanya menatap Donghae. “Semuanya telah berubah Oppa. Satu-satunya orang tua yang kumiliki di dunia ini sudah lebih dulu pergi meninggalkanku. Mulai sekarang, hidupku tidak akan lagi sama seperti sebelumnya.”

Hembusan napas Donghae terdengar berat. Bibirnya melengkung ke atas bersama dengan kedua tangannya yang bebas digunakan untuk menangkup kepala Yuri. Matanya menatap Yuri intens. Membuat keduanya saling memandang satu sama lain.

“Dengar Yuri, tidak akan ada yang berubah, kemarin ataupun sekarang kau tetaplah Kwon Yuri. Aku tau perasaanmu saat ini, kau kehilangan seorang Ayah yang sekaligus seorang Ibu bagimu, aku juga merasakan hal yang sama denganmu. Tapi jangan pernah mengatakan bahwa kau sendiri, karena kau tidak akan sendiri, masih banyak orang yang menyayangimu.” Sebelah tangan Donghae menghapus bekas air mata dipipi mulus Yuri. “Kepergian Ayah bukan untuk ditangisi. Kau percaya kan, bahwa rencana Tuhan begitu indah. Dan tidak ada satupun dari kita yang mengetahui rencanaNya, termasuk Ayah sendiri, karena setiap manusia memiliki garis kehidupan yang berbeda. Mungkin sekarang Ayah sedang mengamati kita dari surga, dan beliau pasti sangat sedih karena melihat putrinya yang sangat cengeng ini.” Terakhir, Donghae mengacak pelan anak rambut Yuri.

“Aish~ Oppa…” Yuri berusaha menjauhkan tangan Donghae dari rambutnya.

“Berhenti menangis dan mari kita pulang. Aku akan menunggu di mobil.” Donghae beranjak dari posisinya dan berjalan meninggalkan Yuri menuju mobil, sebelum itu ia sempat memperhatikan makam milik Sung Ha beberapa detik dengan raut muka yang sulit diartikan.

Yuri tertawa pelan, otaknya berusaha mencerna perkataan Donghae. Setelah menemukan titik terangnya dan berpikir ribuan kali, apa yang dikatakan Donghae memang benar.

“…setiap manusia memiliki garis kehidupan yang berbeda…”

“Ayah..”

Yuri menengadah menatap langit.

“Apa sekarang kau melihatku? Ah tidak, bahkan kau mendengarkanku? Ayah, kemarin, sekarang dan selamanya aku akan tetap menjadi putrimu, putri Kwon Sung Ha, Kwon Yuri.”

Sebelum pergi meninggalkan areal pemakaman, Yuri menaruh bunga di atas gundukan tanah makam milik Sung Ha. Senyumnya merekah disela isak tangisnya. Tangannya yang halus membelai foto Sung Ha yang dibalut bingkai.

“Ayah.. Aku menyayangimu..”

-0-

Di kamar yang tidak terlalu besar, beberapa kali Siwon mencoba menenangkan emosi Kyuhyun yang sedang meluap-luap setelah menceritakan niat kedua orang tuanya untuk segera menikahkannya. Berulang-ulang, Siwon harus mengusap-usap punggung Kyuhyun untuk meredam emosi sahabatnya itu.

“Memang siapa gadis yang akan dinikahkan denganmu Kyu?” tanya Siwon hati-hati.

“AKU TAK TAU DAN TAK INGIN TAU APAPUN!”

Siwon menggaruk bagian belakang kepalanya, bingung. Masalahnya, kalimat itu sudah seratus kali ia dengar keluar dari mulut Kyuhyun.

“Apa kau sudah bilang, bahwa kau keberatan dengan perjodohan dan pernikahan ini?”

Kyuhyun menatap Siwon dengan mata menyalang, seakan pria dihadapannya itu adalah musuh terbesar dalam hidupnya.

“Ayahku sangat egois, kau tau itu kan?”

Siwon kontan menggeleng.

“Apa yang harus kulakukan jika sudah begini? Aku sangat muak dengan kedua orang tuaku. Mereka selalu saja seenaknya, tidak pernah memikirkan perasaanku sama sekali.”

Siwon mengusap punggung Kyuhyun cepat-cepat, menurunkan emosi lelaki itu yang semakin meluap-luap. Melihat usaha sahabatnya untuk menurunkan kadar emosinya itu, Kyuhyun mencoba menarik nafas panjang-panjang.

“Ya sudah kalau begitu…” sejenak kalimatnya menggantung. Lalu, menyambung kalimatnya dengan sangat hati-hati, karena dia tau Kyuhyun tidak akan suka dengan ide yang akan ia utarakan ini “Kenapa kau tidak mencoba menerimanya saja?”

“APA??! TIDAK!!!” Napas Kyuhyun memburu mendengar usulan Siwon. “Aku tidak akan pernah menerima itu!”

-TBC-

Keep RCL^^

Advertisements