Tags

, , , , ,

white-lotusTittle : White Lotus # Chap 2

Author : JHM

Main Cast : Kwon YuRi, Cho KyuHyun.

Other Cast : Kwon Sung Ha, Tiffany Hwang, Lee Donghae, Choi Siwon and Other.

Lenght : Chaptered.

Rating : PG 13+

Sebelumnya makasih banyak buat yang sudah nyempetin baca dan ninggalin komentar. Maaf juga kalau tulisannya masih nggak karuan. Semoga nggak membosankan. Be good readers^^

 

Happy Reading~

 

Seminggu setelah kepergian Kwon Sung Ha, Yuri mulai dapat membiasakan diri hidup tanpanya. Walaupun hari-harinya masih dibalut suasana duka, namun ada saja hal yang cepat merubah suasananya menjadi lebih baik. Yuri memang harus terbiasa dengan hal itu. Terkadang dirinya juga menghabiskan waktunya dengan berenang hampir setengah hari, berlajar memasak dan macam-macam kegiatan lainnya.

 

Seperti saat ini, ketika dirinya tengah berkebun di halaman belakang rumahnya. Mendadak bibi datang dan memberi tau Yuri bahwa seseorang datang untuk bertemu dengannya. Yuri sempat menanyakan siapa orangnya, namun dengan enggan bibi menjawab dan menyuruh Yuri agar cepat menemui tamunya. Dengan sedikit kesal Yuri meletakkan gunting rumputnya lalu membasuh kedua tangannya.

 

“Kali ini siapa yang datang? Bibi ditanya juga tidak jawab, membuatku penasaran saja.” Gerutu Yuri yang terlanjur dibuat penasaran.

 

Mata Yuri berkeliling menyusuri setiap sudut ruang tamu. Namun dirinya tidak melihat tanda-tanda kehidupan sama sekali. Sofa yang biasa digunakan sebagai tempat duduk tamu pun juga terlihat kosong. Yuri kembali mengedarkan pandangannya namun hasilnya nihil. Keningnya berkerut bersama dengan alisnya yang menaik.

 

“Mana tamunya?”

 

Wajah Yuri terlihat sangat musam, dirinya merasa ditipu.

 

“Bi-”

 

Yuri hendak memanggil pembantu dirumahnya untuk menanyakan apa yang disampaikan padanya tadi. Namun sepasang tangan halus seseorang buru-buru membungkam mulutnya untuk menggagalkan niat Yuri.

 

“EM.. EM..”

 

Yuri mencoba menjauhkan sepasang tangan itu dari mulutnya, namun tidak terlalu mudah karena tangan itu begitu erat membungkamnya. Pikiran Yuri jadi seperti di kebanyakan drama, apakah ini penculikan?

 

Pemikiran aneh Yuri berhenti saat mendengar nada seseorang tengah tertawa yang begitu familiar dengannya. Tiffany! Kedua matanya membulat karena baru menyadari bahwa dirinya telah masuk dalam perangkap. Reflek, Yuri langsung menginjak sebelah kaki Tiffany.

 

“Yak!”

 

Spontan, Tiffany melepaskan tangannya dari mulut Yuri dan bergerak mundur. Sebelah kakinya mengayun ke atas sambil mengaduh kesakitan. Ia tidak berpikir sejauh ini. Dan kali ini Yuri berhasil membuat bekas di jemari kakinya.

 

Yuri membalikkan badannya menghadap Tiffany. Raut mukanya terlihat begitu kesal. Tapi detik berikutnya ekspresi wajahnya berubah saat melihat Tiffany nampak kesakitan akibat ulah dirinya.

 

“Fany..” Yuri memperkecil jaraknya dengan Tiffany.

 

Tiffany menatap Yuri sekilas, batinnya tertawa melihat sahabatnya itu memasang tampang melasnya. Tiffany mengakui jika tindakan Yuri menginjak kakinya tadi memang terasa sakit, tapi beberapa detik kemudian semua itu sudah tidak terasa. Dan saat ini Tiffany tengah berpura-pura memperlihatkan raut kesakitannya. Tidak ada salahnya bukan jika sekedar membuat Yuri panik.

 

“Apa itu sakit?” Yuri bertanya pelan.

 

Tiffany mendengus kesal. “Menurutmu?”

 

“Maafkan aku, tadi kan aku tidak sengaja. Itu juga terjadi begitu saja.”

 

“Ah, tidak sengaja ya?”

 

Entah kenapa, sifat jaim Tiffany hari ini mendadak muncul ke permukaan.

 

Yuri mengangguk. “Tentu saja aku tidak sengaja.”

 

Tiffany menatap Yuri sinis. “Jika tidak sengaja, kenapa bisa tepat sasaran?”

 

“Kan aku sudah bilang, aku tidak sengaja.” Yuri mulai memanyunkan bibirnya.

 

“Tapi ini terlalu sakit untuk hal yang tidak disengaja!” Nada bicara Tiffany sedikit dinaikkan.

 

“Iya, minta maaf.”

 

“Kau pikir semudah itu?”

 

Hembusan napas Yuri terdengar kasar. Matanya menyalang menatap Tiffany. Kedua tangannya dilipat di depan dada. Dan Tiffany menyadari semua itu.

 

“Terserah!”

 

Satu kata terakhir dari Yuri sebelum melangkah meninggalkan Tiffany.

 

“Yuri..”

 

Tiffany menatap punggung Yuri dengan perasaan menyesal. Niatnya datang kemari untuk menghibur Yuri, tapi yang terjadi justru kebalikannya. Yuri marah karena dirinya dan seharusnya Tiffany sadar bahwa suasana hati Yuri belum normal semenjak kepergian Ayahnya. Kemarahan Yuri memang tidak akan lama, tapi Tiffany merasa tak enak hati jika sudah begini.

 

-0-

 

Suara deru mobil terdengar memasuki halaman rumah. Pemilik mobil terlihat beranjak dari posisi kemudinya lalu menutup pintu mobil. Langkah kakinya berjalan ke arah pintu rumah belakang dan bertemu dengan dapur. Suasana disekitarnya terasa begitu sunyi. Tidak ada pergerakan sama sekali dalam rumah, kecuali derap langkah kakinya.

 

Mata Kyuhyun mengincar sebuah  lemari pendingin yang didalamnya berisi beberapa makanan dan minuman. Sebelah tangannya membuka pintu kulkas dan mengambil sekaleng minuman dingin. Kyuhyun memposisikan dirinya di meja makan dan langsung meneguk habis minumannya guna menyegarkan tenggorakannya yang terasa begitu kering.

 

PRANG!!!

 

Kyuhyun berjingkat kaget karena mendadak mendengar suara pecahan benda berbahan kaca. Spontan ia menegakkan badannya dan bergegas menuju ke sumber suara tadi. Wajahnya terlihat begitu panik dan kini detak jantungnya juga semakin cepat. Siapa yang melakukan itu di tengah malam begini? Batinnya penasaran.

 

“SEBENARNYA APA YANG KAU INGINKAN?”

 

“KAU DAN ANAKMU ITU SAMA SAJA! SAMA SEKALI TAK BERGUNA!!!”

 

Langkah Kyuhyun mendadak terhenti. Terasa ditancap pedang yang paling tajam, hati Kyuhyun sangat sakit jika sudah mendegar kedua orang tuanya berselisih. Hampir setiap hari dirinya selalu mendengar lantunan kalimat yang kasar keluar dari mulut kedua orang tuanya. Dan yang paling Kyuhyun tidak suka adalah jika mereka sudah menyebut namanya dan seakan mengutuk kelahiran seorang Cho Kyuhyun. Itu semua membuat Kyuhyun muak dan benci. Muak dengan sikap kedua orang tuanya dan benci karena mereka selalu menyalahkan dirinya dalam pertengkarannya.

 

Jika biasanya seorang istri lebih mengalah dan memahami sikap suaminya, tapi hal itu tidak berlaku dalam keluarga Kyuhyun. Ibunya tidak akan pernah mau kalah jika berdebat dengan Ayahnya, sehingga membuat suasana semakin panas. Dan yang membuat Kyuhyun penasaran, sampai saat ini ia tidak pernah mengerti penyebab kedua orang tuanya selalu bertengkar.

 

Tanpa dikomando, setetes air mata mengalir begitu saja membasahi pipinya. Kyuhyun semakin benci jika sudah begini, dirinya selalu menangis tanpa sadar. Sebelah tangannya mengusap kasar pipinya yang basah. Kedua tangannya mengepal dengan mata menyalang. Kyuhyun sudah tidak tahan melihat pemandangan didepan matanya itu.

 

Kyuhyun membalikkan badannya dan kembali ke tempatnya semula. Dengan kasar ia menarik kunci mobil yang tergeletak di meja makan. Lalu  bergegas memasuki mobil dan menyalakan mesin mobilnya meninggalkan rumah yang terkutuk baginya.

 

Kyuhyun melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Ia selalu melakukan itu jika sudah dalam kondisi seperti ini. Mungkin itu salah satu cara untuk menuangkan rasa sakitnya. Terkadang, Kyuhyun juga menginap di apartement Siwon. Karena hanya Siwon yang mengerti banyak tentang dirinya. Dan Siwon adalah seseorang yang sangat dipercaya oleh Kyuhyun. Tapi itu bukan berarti Kyuhyun selalu bergantung kepada Siwon.

 

Kyuhyun mengemudi tanpa arah dan tujuan. Pikirannya begitu kalut. Sebelah tangannya memijit pelan keningnya. Ia tak tau harus kemana jika sudah begini, tidak mungkin jika ia ke apartement Siwon. Sudah cukup banyak bantuan yang diberikan Siwon kepadanya dan sekarang ia tak ingin merepotkan orang lain. Untuk kali ini Kyuhyun ingin sendiri, menenangkan diri. Walau sejujurnya ia juga tak mengerti harus bagaimana lagi.

 

Kyuhyun semakin menambah laju mobilnya. Pikirannya yang tak karuan membuat dirinya tak fokus saat mengemudi. Dan baru menyadari bahwa jarak mobilnya hanya tinggal beberapa meter dari seorang pengguna jalan. Buru-buru Kyuhyun menginjak pedal rem, namun waktu lebih cepat dari dugaannya.

 

BRAK!!!

 

Mobil milik Kyuhyun sukses mengenai seorang pengguna jalan lainnya. Sejenak Kyuhyun mematung karena terlalu kaget. Nafasnya memburu tak karuan. Jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Control your self Kyu! Ia mencoba menghilangkan rasa shocknya. Perlahan tapi pasti, Kyuhyun turun dari mobilnya dan mendekati seseorang yang tanpa sengaja ditabrak olehnya.

 

“Dia masih gadis!”

 

Tiga kata itu mendadak keluar dari mulut Kyuhyun. Ia mencoba mendekatkan dirinya dengan gadis itu. Sebelah tangannya mengecek tanda-tanda kehidupan dalam tubuh gadis itu. Kyuhyun menghembuskan napasnya lega karena gadis itu masih hidup. Namun Kyuhyun sempat tertegun melihat darah segar mengalir di bagian kaki gadis itu. Cepat-cepat Kyuhyun mengangkat tubuh gadis itu dan membawanya ke dalam mobil.

 

Dan sekarang ia bingung harus membawa gadis itu kemana. Rumah sakit terlalu jauh dari tempatnya saat ini, hanya satu tempat yang terdekat. Kyuhyun bergegas melajukan mobilnya ke tempat yang dituju. Malam ini benar-benar malam yang penuh kejutan bagi Kyuhyun. Dimanapun ia berada, disitulah muncul masalah. Tidak bisakah ia menjauh dari semua masalah yang membuatnya semakin kacau. Bahkan dinginnya malam sama sekali tak terasa baginya.

 

-0-

 

Bunyi bel pintu tak henti-henti terdengar di salah satu apartement. Penghuni apartement tengah tidur dengan pulasnya mengingat waktu sudah menunjukkan pukul setengah tiga malam. Mendengar bel pintu berbunyi ia malah menenggelamkan kepalanya dengan bantal dan selimut. Namun bel pintunya tak kunjung berhenti, justru semakin menjadi.

 

Dengan perasaan kesal setengah mati, pria bernama Choi Siwon itu beranjak dari ranjang tidurnya. Dan menyumpahi orang yang senang sekali menganggu jam istirahatnya. Siwon membuka pintu apartementnya dan hendak mengeluarkan kata-kata kasar dari dalam mulutnya. Namun niatnya diurungkan saat mendapati Kyuhyun dengan wajah paniknya. Dan yang lebih membuat Siwon terdiam adalah sosok gadis yang berada dalam gendongan Kyuhyun.

 

“Kyu..”

 

Kyuhyun bergegas masuk ke dalam dan mengabaikan wajah penasaran Siwon. Tujuan pertamanya adalah kamar Siwon. Dan Kyuhyun membaringkan tubuh gadis yang ditabraknya tadi di ranjang. Lalu melepas sepatu milik gadis itu dan menyelimutinya hingga separuh badan.

 

Lagi-lagi Siwon harus menelan pertanyaannya untuk Kyuhyun, karena sahabatnya itu lebih dulu bertanya padanya dimana letak kotak obat. Siwon menunjukkan letaknya dengan memasang tampang bingungnya. Dalam hitungan detik, Kyuhyun kembali ke kamarnya dengan kotak obat ditangannya. Pertama ia membersihkan luka dan bekas darah di kaki gadis tadi. Lalu mengobati lukanya secara perlahan. Setelahnya, Kyuhyun meninggalkan gadis itu ke ruang tamu dan menyandarkan tubuhnya ke sofa.

 

Badannya terasa lelah. Kenyataan hari ini begitu miris baginya. Jika ini mimpi, Kyuhyun ingin segera bangun dan melupakannya. Tapi kebenarannya kejadian ini adalah fakta dan akan sulit bagi Kyuhyun untuk melupakannya. Ia berusaha memejamkan kedua matanya untuk menghilangkan rasa penat ditubuhnya.

 

Siwon kembali ke ruang tamu dengan membawa dua gelas minuman. Niatnya bertanya tentang apa yang terjadi dengan Kyuhyun malam ini harus kembali diurungkan. Karena mendapati Kyuhyun sudah tergeletak dengan kedua mata terpejam di sofa. Siwon pun memutuskan untuk menyusul Kyuhyun masuk ke dunia mimpi.

 

-0-

 

Hembusan angin menerbangkan anak rambut seorang gadis. Deburan ombak berlomba menampar terumbu karang. Pasir putih terhambar luas ditemani lambaian daun-daun pohon kelapa. Warna biru laut dengan pantulan cahaya matahari terasa menyejukkan hati.

 

Yuri berdiri di bibir pantai dengan kedua tangan membentang. Indera penciumannya berfungsi untuk menghirup dalam-dalam udara segar. Bibirnya merekah melukiskan sebuah senyum indah di wajahnya. Ombak kecil berlari-lari mencium bibir pantai dan menerjang pelan kedua kaki Yuri. Ia tertawa renyah merasakan ombak itu menggelitik kaki telanjangnya.

 

“Yuri..”

 

Suara lembut seorang pria paruh baya memanggilnya. Merasa namanya disebut, Yuri menoleh dan senyumnya terukir mendapati Sung Ha tengah menatapnya dengan mengenakan pakaian serba berwarna putih.

 

“Ayah..”

 

Langkah kaki Yuri membawanya mendekat kepada Sung Ha. Senyum diwajahnya tak pernah hilang jika melihat wajah tampan Ayahnya. Yuri menambah laju langkahnya. Saat ini ia hanya ingin berada didekat Sung Ha.

 

“Ayah..”

 

Sung Ha tersenyum melihat Yuri yang semakin memperkecil jarak dengannya. Tangannya mengulur  ke arah Yuri. Dengan senang hati Yuri menerima uluran tangan itu. Keduanya sama-sama menunjukkan wajah bahagianya. Namun, secara perlahan senyum Sung Ha menghilang dan disusul dengan seluruh tubuhnya. Wajah Yuri mulai panik. Ia mencoba merengkuh tubuh Ayahnya, tapi percuma. Dan dalam sekejap Sung Ha benar-benar pergi meninggalkannya. Pandangannya diedarkan ke penjuru pantai dan hasilnya nihil.

 

“AYAH!!!!”

 

Yuri menjerit menyebut nama Sung Ha, namun tak kunjung ada jawaban. Tubuhnya merosot ke bawah. Aliran air mata yang tak dapat dibendung kini mengalir deras. Tubuhnya bergetar. Yuri tak sanggup ditinggal Sung Ha, ia membutuhkanya. Yuri sangat membutuhkannya.

 

“AYAH!!!”

 

Yuri terbangun dari tidurnya. Keringan dingin membasahi sekujur tubuhnya. Dadanya naik turun dengan napas yang tak teratur. Entah sejak kapan pipinya basah dengan air mata. Yuri menggeleng tak percaya. Dunia mimpinya tadi terasa begitu nyata. Ia bertemu Sung Ha lalu ayahnya itu tiba-tiba menghilang. Dan kenapa Sung Ha pergi sendiri, padahal Yuri sangat ingin menemaninya. Jika semuanya semudah apa yang dibayangkan, Yuri sangat ingin ke tempat Sung Ha, menemani Ayahnya agar tidak kesepian. Tapi Yuri sadar, ia tidak akan pernah bisa melakukan itu. Ia memiliki dunianya sendiri yang harus dijalani sebaik mungkin, tak peduli apapun tantangannya.

 

Yuri menghela napasnya pelan mengurasi rasa takutnya dari mimpi tadi. Ia berniat mengambil segelas minum yang biasanya ia letakkan di atas meja nakas sebelah ranjang. Namun setelah Yuri meraba-raba, ia tidak menemukan benda apapun diatasnya kecuali sebuah note kecil. Yuri memastikan dengan penglihatannya, namun hasilnya juga sama. Ia mengernyit bingung dan mengedarkan pandangannya di setiap sudut kamar. Dan Yuri menyadari bahwa ruangan yang ditempatinya detik ini bukan kamarnya. Reflek Yuri membuang jauh-jauh selimut yang dipakainya dan hendak beranjak dari ranjang, namun rasa sakit mendadak timbul di bagian kakinya.

 

“Aww!!”

 

Yuri mengaduh kesakitan. Ia langsung mengecek kakinya dan mendapatkan bagian bawah lututnya dibalut perban. Seketika memori Yuri berputar pada kejadian semalam. Dirinya ingat karena marah dengan Tiffany, ia memutuskan keluar rumah lalu ke kedai langganannya dan cukup banyak meneguk soju. Dan efeknya akan selalu membuat otaknya tidak berjalan normal. Pantas pinggangnya terasa sakit. Kebiasaan Yuri setelah minum soju akan berimbas pada pinggangnya dan membuatnya mabuk. Lalu semalam dirinya berjalan tanpa arah dan sesuatu yang keras menabraknya. Setelahnya, Yuri tak sadar dan berakhir di tempat yang saat ini ia huni.

 

Yuri menurunkan kakinya perlahan tapi pasti. Ia mencoba menjalankan kakinya walau terasa sedikit menyakitkan. Yuri keluar dari dalam kamar dan melihat-lihat sekelilingnya. Pertama, penglihatannya tertarik pada sebuah bingkai foto dihiasi dengan dua wajah pria seumuran. Cukup lama Yuri melihat dan sepata kata keluar dari mulutnya.

 

“Tampan.”

 

Ia mengucapkannya tanpa sadar. Sambil sedikit terseok-seok, Yuri kembali melanjutkan langkahnya. Dan tanpa diberi tau, ia yakin bahwa pemilik apartement ini adalah seorang lelaki. Dugaannya tepat saat melihat dengan mata telanjang kedua pria yang berada dalam bingkai tadi tengah tertidur pulas dengan posisi bersebelahan. Apakah mereka yang menolongku semalam?

 

Spontan pertanyaan itu adalah yang pertama kali muncul dalam pemikiran Yuri. Dan jika memang benar mereka yang menolong Yuri semalam, ia tak tau harus berlaku seperti apa. Tapi bagaimana jika mereka yang menabrakku?

 

Tubuh Yuri mematung saat mendapati salah satu dari keduanya bergerak dan mengerjapkan kelopak matanya. Pria itu terlihat semakin menajamkan penghilatannya saat melihat Yuri juga menatapnya. Merasa dirinya menjadi perhatian, pria itu langsung menegakkan tubuhnya dan mencoba membangunkan pria disampingnya. Yuri semakin bingung melihat tingkah kedua pria itu.

 

“Ada apa Kyu?” Siwon berucap dengan menggerakkan tubuhnya ke samping kanan dan kiri tanpa menyadari Yuri juga menatapnya aneh.

 

Kyuhyun mendaratkan pukulan tangannya di punggung Siwon cukup keras, membuatnya meringis kesakitan. Kyuhyun menggerakkan bola matanya ke arah Yuri sebagai kode untuk Siwon. Detik berikutnya Siwon mengukuti arah pandang Kyuhyun dan mulai paham alasan sahabatnya itu memberi ia pukulan. Sedangkan Yuri tak tau harus berbuat apa, posisinya kali ini sangat sulit untuk dijelaskan.

 

Waktu terus berjalan, namun ketiga insan itu belum ada yang memulai pembicaraan. Ketiganya terlihat kikuk dan canggung. Kyuhyun dan Siwon saling berbisik pelan agar ada yang lebih dulu memulai obrolan. Sedangkan otak Yuri memberi perintah agar ia keluar dari apartement. Sebelum itu, ia memutuskan untuk menyempatkan diri sekedar mengucapkan terima kasih kepada dua pria itu.

 

“Aku!”

 

Tanpa aba-aba, ketiganya mengucapkan kata Aku! secara bersamaan

 

“Kau dulu.”

 

Untuk yang kedua kalinya hal itu terulang dan mereka saling berpandangan.

 

“Memalukan sekali.”

 

Terakhir, mereka tertawa malu karena kekompakannya. Yuri menghetikan tawanya dengan menhembuskan napas pelan. Matanya menatap Kyuhyun dan Siwon dengan pandangan yang sulit diartikan. Lalu secercah senyum terbingkai di wajahnya.

 

“Terima kasih..”

 

Nada suara Yuri terdengar lembut dan tulus.

 

“APA?”

 

Mendengar itu, Kyuhyun dan Siwon mendadak balik menatap Yuri dan entah kenapa hatinya berdesir.

 

Yuri tertawa pelan. “Terima kasih karena sudah menolongku.”

 

“Apa dia sama sekali tidak mengingat jika semalam aku menabraknya?”  batin Kyuhyun.

 

“Itu sudah menjadi kewajiban menolong orang lain.” Siwon beranjak dari sofa. “Tidak baik jika seorang wanita berdiri terus.” Lanjutnya sembari mempersilahkan Yuri untuk duduk.

 

Yuri menggeleng pelan. “Terima kasih, tapi sebaiknya aku pulang karena aku tidak ingin membuat orang rumah khawatir memikirkanku.”

 

“Tapi bagaimana dengan kakimu? Apa masih sakit?” Tanya Kyuhyun yang entah sejak kapan sudah berdiri di dekat Yuri.

 

“Ini hanya luka biasa, sebentar lagi juga pasti sembuh.”

 

Kyuhyun dan Siwon mengangguk mengerti.

 

“Kalau boleh tau, apa semalam aku tidak membawa barang apapun, semacam ponsel?”

 

Kyuhyun mencoba mengingat kejadian semalam, saat ia mengangkat tubuh Yuri, sama sekali tak menemukan barang apapun.

 

“Maaf, sepertinya tidak ada.”

 

“Begitu ya?” Wajah Yuri terlihat kecewa.

 

“Apa kau membutuhkan ponsel? Jika iya, aku bisa meminjamkannya untukmu.” Tawar Siwon.

 

“Apa tidak merepotkan?” Tanya Yuri hati-hati.

 

Siwon mengangguk. “Tentu saja merepotkan, tapi jika itu gadis secantik dirimu tentu tidak masalah.”

 

Jika kebanyakan wanita akan tersipu dan terbuai jika diberi kalimat pujian, tidak bagi Yuri. Hal seperti itu sudah biasa ia dengar dari mulut lelaki. Bagi Yuri, lelaki yang mudah mengumbar perasaannya sama sekali tidak ada spesialnya. Jika dikatakan Yuri terlalu jual mahal, tentu salah, karena bukan itu yang ia maksudkan. Hanya saja, Yuri selalu mengingat perkataan Sung Ha sebelum meninggalkannya.

 

“Yuri, kau tau kenapa Ibumu lebih memilih Ayah daripada sahabat Ayah lainnya?”

 

“Kenapa?” Wajah Yuri mulai penasaran.

 

“Dulu, Ibumu mempunyai banyak teman lelaki. Tapi dari sekian banyak pria, Ibumu selalu menceritakan semua keluhnya pada Ayah. Katanya, jika Ibumu mengeluh sedikit kepada temannya yang lain, mereka akan mudah bosan dan membuat Ibumu mengurungkan niatnya karena tak enak hati. Bahkan pria yang selalu mengatai Ibu adalah wanita tercantik juga sama saja, tidak pernah bisa menerima curahan hati Ibumu.”Sung Ha menghentikan ceritanya sejenak dan membelai lembut anak rambut Yuri. “Kau tau apa yang dapat kau ambil dari cerita Ayah tadi?”

 

Yuri menggeleng tak mengerti.

 

Sung Ha tertawa kecil. “Jika kau sudah dewasa nanti, berhati-hatilah dengan lelaki. Jangan mudah terbuai dengan janji manisnya. Pilihlah lelaki yang benar-benar dapat menerima dan memahami betul tentang dirimu.” Jelas Sung Ha.

 

“Seperti Ayah?”

 

Dan Sung Ha kembali dibuat tertawa oleh putrinya. “Tentu saja seperti Ayah.”

 

“Kalau begitu aku memilih Ayah saja.” Yuri berhambur memeluk Sung Ha dengan tertawa renyah.

 

Yuri membuyarkan lamunannya saat Siwon menggoyakan ponsel miliknya didepan wajah Yuri.

 

“Ah maaf, aku pinjam sebentar.”

 

“Lama juga tak masalah.” Canda Siwon.

 

Yuri berjalan dengan terseok-seok sedikit menjauh. Lalu mendial nomor seseorang untuk datang kemari menjemputnya. Kyuhyun menjadi diselimuti rasa bersalah saat melihat cara Yuri berjalan. Kyuhyun harus melakukan sesuatu untuk menebus perbuatannya pada gadis itu. Tapi ia sendiri tak tau harus berbuat apa

 

“Kyu..” Siwon menyenggol pelan lengan Kyuhyun.

 

Kyuhyun menoleh. “Apa?”

 

“Gadis yang kau tabrak itu cantik bukan?” Siwon berkata tanpa melepas pandangannya kepada Yuri.

 

Kyuhyun ikut memandang wajah Yuri dari samping. Jika diamati cukup lama, Kyuhyun seperti pernah bertemu gadis itu. Ia tak ingat kapan dan dimana, rasanya sudah cukup lama. Tapi Kyuhyun tidak yakin sepenuhnya, mungkin itu hanya angannya saja. Siwon tersenyum melihat Kyuhyun yang sepertinya betah memandang Yuri.

 

“Jangan bilang kau suka padanya.” Goda Siwon dengan kekehannya.

 

Kyuhyun mendelik kepada Siwon. “Jaga bicaramu, jangan sembarangan.” Desisnya tajam.

 

“Baguslah, biar dia untukku saja.”

 

Yuri mendial tombol merah untuk mengakhiri panggilannya. Lalu berbalik dan mengembalikan ponsel yang ia pinjam kepada pemiliknya.

 

“Terima kasih.”

 

“Sama-sama..”

 

Siwon menjawab dengan senyum mengembang, sedangkan Kyuhyun muak melihat sikap Siwon yang selalu centil jika dengan wanita. Tapi hati Kyuhyun bersorak senang karena Yuri menanggapi Siwon dengan ekspresi biasa, hanya sesimpul senyum.

 

“Lebih baik kau duduk dulu.” Titah Kyuhyun.

 

Yuri berpikir itu mungkin lebih baik, daripada dirinya berdiri terus. Saat hendak memulai langkah pertamanya, Yuri merasakan nyeri di kakinya dan meringis pelan. Reflek, Kyuhyun dan Siwon berlari dua arah ke Yuri dan langsung mengalungkan tangan Yuri dipundak masing-masing.

 

“Biar aku bantu.” Ujar Kyuhyun dan Siwon secara bersamaan.

 

Seketika Yuri terdiam menoleh ke samping kanan dan kiri, melihat kedua tangannya yang sudah berpindah tempat. Yuri menelan ludahnya dengan susah payah karena kedua pria itu menatapnya intens.

 

“Ah maaf, bisakah kalian melepaskannya.” Pinta Yuri dengan terkekeh pelan.

 

Reflek, Kyuhyun dan Siwon menjauhkan tangan Yuri dari pundaknya. Mereka baru menyadari kelakuannya. Dengan canggung Siwon terkekeh, sedangkan Kyuhyun menggaruk bagian belakang kepalanya yang tak gatal.

 

“Duduklah, akan kubuatkan minuman untukmu.” Tubuh Siwon menghilang ke arah dapur.

 

Tersisa Kyuhyun bersama Yuri di ruang tamu. Selang beberapa menit, Siwon kembali dengan membawa nampan berisi tiga gelas minum dan meletakkannya di meja. Lalu memposisikan dirinya disebelah Kyuhyun dan mempersilahkan Yuri minum.

 

“Oh iya, kita belum sempat berkenalan. Namaku Siwon dan temanku itu Kyuhyun.” Siwon memberanikan diri untuk memperkenalkan namanya. “Kalau boleh tau, namamu siapa?”

 

“Namaku Yu-”

 

TING TONG~

TING TONG~

 

Bel pintu berbunyi membuat ketiganya bersamaan menoleh ke arah pintu. Sejenak, mereka melupakan acara perkenalannya. Salah satu dari mereka berdiri untuk membuka pintu. Sebelah tangan Kyuhyun menekan sebuah tombol sehingga pintu terbuka dengan sendirinya. Sosok lelaki berpostur cukup tinggi muncul dibalik pintu dengan raut muka khawatirnya.

 

“Oppa!”

 

-0-

 

Yuri enggan melepaskan pandangannya dari Donghae. Raut wajahnya bertanya-tanya karena sedari tadi kakaknya itu sama sekali tak mengucapkan sepatah katapun. Bahkan saat di mobil Yuri terpaksa harus menutup mulutnya karena Donghae tak sedikitpun meresponnya perkataannya. Dan yang membuat Yuri lebih heran adalah saat bertatap muka dengan Kyuhyun dan Siwon wajah Donghae menunjukkan ekspresi tak suka. Sehingga Yuri belum sempat mengucapkan terima kasih karena Donghae buru-buru mengajaknya pulang. Yuri menutup kasar pintu kamarnya, melampiaskan amarahnya kepada Donghae.

 

“Sebenarnya setan apa yang merasuki tubuhnya semalam?” Gerutu Yuri kesal.

 

Yuri menghempaskan tubuhnya di ranjang. Rasanya benar-benar melelahkan. Matanya memandang atap-atap langit kamarnya yang dipenuhi gambar bintang-bintang. Sebelah tangannya terangkat ke atas menggambar pola bintang. Siapa yang akan menjadi bintang dihatiku? Pertanyaan itu mendadak muncul dipikiran Yuri. Ia tertawa geli mendengar pertanyaannya sendiri, kalimat itu terdengar aneh baginya.

 

Pikirannya itu harus terhenti karena seseorang tengah membuka pintu kamarnya tanpa izin. Yuri menegakkan tubuhnya saat mendapati Donghae tengah berjalan ke arahnya. Lalu menyodorkan sebuah kotak berukuran sedang padanya. Yuri menerimanya dan hendak bertanya menyangkut kotak pemberian Donghae. Lagi-lagi ia harus dibuat kesal oleh Donghae karena kakaknya itu langsung pergi begitu saja.

 

“Aish~!”

 

Yuri sudah terlalu jengkel dan tak peduli kepada Donghae. Tangannya membolak-balikkan benda kotak yang baru diterimanya. Dilihat dari luar benda itu terlihat menarik hati dengan bungkus berwarna merah gambar mickey mouse. Tak tahan ingin mengetahui isi dari dalam kotak itu, Yuri langsung membukanya. Ia sempat berfikir isinya adalah sebuah jam, kalung ataupun asesoris lainnya. Tapi semua diluar dugaan, isi dalam kotak itu adalah sebuah foto yang menunjukkan wajah dua bayi yang terlihat baru lahir. Yuri mengernyit heran. Ia sama sekali tak mengerti. Dan rasa penasarannya semakin meningkat menyadari bagian pojok kanan atas foto itu robek. Yuri membalik foto itu dan mendapati tulisan tangan seseorang dengan tinta merah. Ia semakin bertanya-tanya siapa yang mengirim benda ini untukya. Dan.. Apa maksud dari foto ini?

 

-TBC-

 

Keep RCL^^

Advertisements