Tags

, , , , ,

white-lotusTittle : White Lotus # Chap 3

Author : JHM

Main Cast : Kwon YuRi, Cho KyuHyun.

Other Cast : Kwon Sung Ha, Tiffany Hwang, Lee Donghae, Choi Siwon and Other.

Lenght : Chaptered.

Rating : PG 13+

Makasih lagi buat kalian yang sudah mau nyempetin baca dan ninggalin komentar^^ Maafkan kalau makin nggak nyambung atau sebagainya..

 

Happy Reading^^

Matahari mulai menampakkan diri dengan sinarnya yang menerangi belahan bumi. Jalanan kota dipadati dengan kendaraan yang berlalu lalang. Sebagian orang menggumamkan kalimat kesal merasakan kemacetan tak ujung henti. Salah satunya pengendara dalam mobil audi hitam, sebelah tangannya terus menekan klakson mobil. Siwon sangat membenci suasana seperti ini, yang ia inginkan adalah kondisi jalan lancar tanpa kemacetan. Baru kali pertama mobil yang ia jalankan tak kunjung bergerak dalam waktu yang cukup lama. Waktu terus berjalan, sedangkan sebentar lagi kelas akan dimulai. Siwon mengacak rambutnya frustasi.

Kyuhyun menggeleng melihat keputusasaan dalam diri Siwon. Lalu pandangannya kembali pada jalanan dimana kendaraan saling berdesak-desakan merebut adanya peluang jalan. Matanya memandang keluar tapi pikirannya melayang. Kyuhyun terus memikirkan waktu dimana Donghae datang menjemput gadis yang ditabraknya. Awalnya, ia dan Siwon berpikir apa hubungan Donghae dengan gadis itu. Belum lagi gadis itu memanggil Donghae dengan sebutan Oppa! yang terdengar jelas ditelinganya. Tapi melihat Donghae datang dengan raut muka sinisnya menimbulkan tanda tanya besar baginya. Atau mungkin Donghae masih menganggap Kyuhyun musuh besar baginya.

Mengingat dulu Kyuhyun, Siwon dan Donghae bersahabat dan kemanapun mereka pergi pasti selalu bersama. Namun persahabatan itu hanya menjadi kenangan ketika Donghae tau bahwa Kyuhyun sudah mempunyai kekasih yang juga dicintai Donghae. Pertama Donghae mencoba bersikap biasa walau terasa menyakitkan, tapi tiada yang tau kemauan hati. Lama kelamaan Donghae semakin membenci Kyuhyun dan muak melihat kemesraan Kyuhyun dengan gadis yang disukainya. Mulanya hanya Siwon yang menyadari Donghae semakin menjauh dan ia mencoba mendekati Donghae namun responnya tidak terlalu baik. Ia juga tak tau alasan pasti Donghae menjauh.

Hingga suatu ketika kekasih Kyuhyun meminta mengakhiri hubungannya dengan alasan tak masuk diakal. Kyuhyun begitu marah karena itu kali pertamanya ia merasakan sakitnya cinta. Esoknya ketika Kyuhyun dan Siwon berjalan di koridor sekolah mereka seakan menjadi sorotan dengan untaian kalimat tidak menyenangkan yang salah satunya menyebutkan bahwa mereka adalah Gay. Dari itu Kyuhyun tau alasan logis mantan kekasihnya memilih untuk meninggalkannya. Tak lama Siwon menemukan pelaku dibalik semua itu, tak lain dan tak bukan adalah sahabatnya sendiri—Lee Donghae. Kyuhyun juga memahami kenapa Donghae melakukan semua itu. Ia merasa bodoh dan menyesal kenapa ia tidak pernah memahami perasaan sahabatnya. Jika saja ia lebih dulu tau bahwa Donghae juga menyukai mantan kekasihnya, hal seperti itu tak akan pernah terjadi.

Waktu adalah hal yang paling mengerikan, karena kegembiraan dan kesedihan akan datang serta pergi bersamanya. Kyuhyun tersenyum miris jika kembali mengingat masa-masa menyakitkan itu, sesuatu yang paling pahit dalam hidupnya. Tapi ia cukup lega karena dapat melihat lagi wajah Donghae dalam keadaan baik-baik saja. Berbicara tentang Donghae, pikiran Kyuhyun mendadak tergambar wajah gadis yang ditabraknya malam itu. Jika dibayangkan lagi, memang betul ucapan Siwon bahwa gadis itu cantik. Kyuhyun heran dengan gadis itu, jika kebanyakan wanita akan terkesima ketika melihat dirinya dan Siwon, tidak bagi gadis itu. Bahkan saat Siwon memuji kecantikannya, ia hanya bersikap biasa. Entah kenapa senyum Kyuhyun kian mengembang. Jantungnya juga tidak berdetak normal. Membayangkan wajah gadis itu rasanya ada sesuatu tersendiri yang sulit untuk dijabarkan.

“Tidak! Tidak! Itu tidak akan pernah terjadi, mungkin hanya perasaanku saja.” Cepat-cepat Kyuhyun menggelengkan kepalanya dan menghela napas pelan.

“Tidak akan pernah terjadi apa?” Siwon melihat gelagat Kyuhyun yang sedikit aneh.

“Tidak!”

Siwon mengangat alisnya. “Apanya yang tidak?”

“Tidak ada apa-apa.”

Kyuhyun melihat ke luar jendela, ia baru sadar sedari tadi mobil yang ditumpanginya sama sekali tidak menunjukkan kemajuan. Posisinya tetap sama sebelum Kyuhyun membayangkan berbagai hal dipikirannya. Pandangannya beralih ke depan dimana jalanan penuh sesak dengan kendaraan bermotor

“Kenapa jalannya sangat macet?” Kyuhyun begitu miris melihat pemandangan didepan matanya.

Siwon mengendikkan bahunya. “Aku juga tak tau. Jika terus seperti ini, kita bisa telat.”

“Oh iya, kau tau tidak nama gadis yang dijemput Donghae waktu itu?” Entah kenapa bibir Kyuhyun spontan meluncurkan pertanyaan semacam itu.

“Kalau tidak salah, namanya Yu..” Wajah Siwon nampak berpikir. “Yu..”

“Yu siapa?” Potong Kyuhyun tak sabar.

“Aku lupa, dia tidak lengkap menyebutkan namanya karena Donghae datang dan langsung mengajaknya pulang.” Jelas Siwon.

“Begitu ya?” Nada suara Kyuhyun terdengar lesu.

“Memangnya kenapa?” Siwon menajamkan matanya melihat wajah lelaki di sampingnya yang begitu lesu.

“Jangan bilang kau suka?” Tebak Siwon dengan nada menggodanya.

Mata Kyuhyun mendelik menatap Siwon. “Jangan sembarangan kalau bicara!”

Siwon terkekeh. “Lalu kenapa kau sangat ingin tau nama gadis itu?”

“Hanya ingin tau saja, aku belum sepat meminta maaf padanya. Yang dia tau kita telah menolongnya, padahal aku yang menyebabkan dirinya terluka.”

“Lupakan kejadian itu, yang penting dia selamat dan kita kan sudah bertanggung jawab. Itupun juga kecelakaan yang tidak disengaja.”

Kyuhyun mengangguk. “Kau benar.”

“Kalau boleh tau, kenapa malam itu kau sampai menabraknya? Bukankah setelah mengantarkanku pulang, kau langsung kembali ke rumah?” Pertanyaan itu sudah berulang kali Siwon urungkan, kali ini ia ingin tau apa yang terjadi dengan Kyuhyun malam itu.

Mendadak hati Kyuhyun sakit harus membicarakan hal ini. “Seperti biasa, orang tuaku bertengkar. Jadi, aku memutuskan untuk keluar daripada harus mendengarkan pertengkaran mereka.”

“Apa ini tentang perjodohan itu lagi?” Siwon bertanya hati-hati.

Kyuhyun diam, kali ini ia tak ingin membahas apapun yang berkaitan dengan perjodohan ataupun orang tuanya. Karena itu hanya membuat dirinya semakin kalut dengan pikiran yang kacau. Siwon pun memahami keinginan Kyuhyun untuk saat ini. Diam adalah suatu cara untuk mengatasi berbagai masalah, mungkin itu lebih baik daripada banyak bicara yang hanya semakin terasa menyakitkan.

-0-

Yuri berjalan dengan santainya dikoridor kampus, derap langkahnya nyaris tak terdengar. Salah satu tangannya menyelipkan rambutnya dibalik telinganya. Perpaduan celana jeans bertemu kemeja berwana cerah ditambah tas backpack di punggungnya membuat Yuri terlihat simpel tapi elegan. Tampang wajahnya yang hanya dibalut sedikit polesan bedak tidak menghilangkan aura kecantikannya yang natural. Siapapun yang memandang akan terpesona dengan kecantikan Yuri.

Lain halnya dengan gadis disamping Yuri. Wajahnya penuh dengan polesan berbagai macam make up, salah satunya adalah bibirnya yang nampak kemerahan. Dress biru selutut yang dikenakan menambah nilai plus fashionnya, tak lupa beberapa asesoris dibagian tubuhnya. Langkahnya begitu anggun, menunjukkan bahwa seorang Tiffany Hwang begitu feminim dan glamour.

Wajah Tiffany begitu bahagia karena keinginannya dapat satu kampus dengan Yuri akhirnya terwujud. Rasanya sangat sulit untuk jauh dari Yuri, seakan ada magnet yang selalu menariknya mendekat dengan sahabatnya itu. Mulai sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, ia selalu bersama Yuri. Hubungan keluarga mereka juga cukup dekat. Jika Yuri datang ke rumah Tiffany, ibunya selalu memberi Yuri rasa kasih sayang yang selama ini belum pernah Yuri rasakan, layaknya putri sendiri. Perlakuan keluarga Tiffany sudah sangat membuat Yuri nyaman. Bahkan tak jarang Yuri menginap di rumah Tiffany, tentunya seizin Sung Ha. Semua suka duka Yuri selalu dibagi kepada Tiffany, begitupun sebaliknya.

Mata Yuri menyusuri penjuru ruangan yang dilewatinya. Otak dan indera penglihatannya bekerja untuk menghafal letak beberapa ruangan penting di kampus. Walaupun bekas luka dikakinya masih terasa, Yuri tetap semangat menjalani hari pertamanya dikampus. Ia tidak ingin melewatkan hari ini begitu saja. Pikiran dan hatinya berusaha selalu positif dalam menjalani hari demi hari. Walau sejujurnya semalam ia kurang tidur karena terlalu memikirkan tentang foto yang masih menjadi misteri baginya. Ia sempat menanyakan perihal foto itu kepada Donghae, namun kakaknya itu juga tidak mengerti apapun tentang foto itu. Donghae hanya menerima kiriman paket yang datang waktu malam Yuri tak pulang. Dari situ Yuri percaya, Donghae tak ada kaitannya dengan foto itu. Ia terus memikirkan perihal foto itu dikirimkan padanya hingga larut malam. Bahkan Yuri tak hanya sekali membolak-balik kotak tempat fotonya yang barang kali ada nama pengirimnya dan berharap ia melewatkannya. Namun semua itu terbuang percuma, Yuri sama sekali tak menemukan identitas pengirimnya. Tapi bukan Yuri namanya jika pantang menyerah, ia akan terus menyelidiki maksud dibalik foto itu. Setidaknya ada sedikit celah baginya. Yuri sangat mengingat coretan tinta dibagian paling bawah dibalik foto.

RUMAH SAKIT SEOUL – 4 DESEMBER 1998

 

Yuri akan mendatangi tempat itu dan mencari tau semuanya. Ia tidak suka jika sesuatu terus menganggu pikirannya, apalagi sampai membuatnya penasaran. Tanpa sadar sebelah tangan Yuri mengepal menyemangati dirinya sendiri. Pandangannya lurus ditemani sekilas senyum di wajahnya. You can do it, Kwon Yuri!

 

Mata Tiffany membulat ketika beberapa meter di depannya dua orang pria tengah berlari dengan wajah panik dan tidak memperhatikan jalan dengan benar. Beberapa mahasiswa lainnya menggerutu karena tubuhnya hampir jatuh akibat dua pria tadi. Tiffany hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan kedua pria itu. Lalu ia menoleh ke samping dan betapa kagetnya ia tidak mendapati Yuri disebelahnya.

“Kemana Yuri?”

Tiffany mengedarkan pandangannya mencari sosok Kwon Yuri, tak lama netranya mengangkap siluet tubuh orang yang dicarinya. Ia menghembuskan napasnya lega karena sudah menemukan Yuri. Tiffany heran, bagaimana bisa Yuri sudah berada jauh didepannya. Langkahnya dipercepat menuntunnya menuju dimana Yuri berada. Sebelum itu ia sempat menajamkan penglihatannya karena mendapati Yuri tidak seorang diri. Seorang gadis berpostur tinggi dengan potongan rambut sebahu terlihat berbincang dengan Yuri.

“Yuri..”

Suara lembut Tiffany spontan membuat Yuri dengan gadis disampingnya menoleh ke arahnya.

“Joy!”

-0-

Sepuluh menit sudah berlalu, namun belum ada percakapan diantara ketiganya. Bahkan makanan yang sudah dipesan, saat ini menjadi hiasan, tak disentuh sama sekali. Mereka nampak menyibukkan diri sendiri. Kesabaran Tiffany lenyap, ia tak tahan jika dalam suasana seperti ini. Wajahnya terangkat dan menatap lekat sosok yang duduk dihadapannya. Sedetik Tiffany terpana, matanya difokuskan pada wajah gadis dihadapannya. Hampir satu bulan tak bertemu, sama sekali tak ada perubahan pada sosok Joy. Hanya saja rambut yang awalnya panjang, kini hanya tersisa setengah.

“Joy, kau semakin cantik saja.” Puji Tiffany dengan nada suara yang lembut dan tulus.

Joy tersenyum malu. “Tetap saja lebih cantik kalian.”

“Rambut barumu membuat aura wajahmu berbeda, terlihat semakin cantik.” Kata Yuri sambil menyeruput air minumnya.

Lagi-lagi Joy hanya menanggapinya dengan senyuman.

“Apa kau juga kuliah disini?” Tanya Tiffany.

Joy mengangguk. “Ini adalah salah satu keinginan ibuku agar aku kuliah disini.” Ketiganya melanjutkan pembicaraannya dengan santai dan siapa yang tau bahwa mereka berada di jurusan dan kelas yang sama.

Tepat diujung kantin, tiada yang tau bahwa seseorang tengah mengamatinya dengan pandangan yang sulit diartikan. Dering ponselnya mengalihkan perhatiannya dan bergegas mendial tombol hijau. Suara khas seorang lelaki dari seberang terdengar begitu nyaring.

“Apa kau sudah menemukannya?”

“Sedang saya usahakan Tuan.”

“Secepatnya kau temukan foto itu!”

“Baik Tuan.”

Pandangannya kembali ke arah tiga gadis tadi yang tengah tertawa bersama. Bibirnya terangkat ke atas dengan menggumamkan suatu kalimat yang hanya dapat didengar oleh dirinya sendiri. Setelahnya ia membetulkan topi hitamnya dan melangkah pergi.

-0-

Kyuhyun membuka kedua matanya lebar-lebar mencoba menghilangkan rasa kantuk yang mendadak menjalar ditubuhnya. Selalu begini jika sudah mendengarkan sang dosen bercerita tentang perjalanan hidupnya, bukan membahas mata kuliah. Padahal cerita itu sudah ratusan kali ia dengar. Tapi tetap saja dosennya selalu mengulang kembali cerita yang sama. Tak hanya Kyuhyun yang merasakannya, hampir seluruh penghuni kelas juga merasakan hal yang sama. Kyuhyun beranjak dari tempat yang membosankan baginya. Keluar dari kelas untuk mencari udara segar. Tujuan pertamanya adalah kamar mandi. Kyuhyun menyalakan keran air dan membasuh muka serta membasahi sebagian rambutnya. Ia melihat pantulan dirinya di dalam kaca.

Senyumnya merekah menyadari ketampanan wajahnya. Tak heran jika selama ini banyak gadis yang menggilai sosok Cho Kyuhyun. Dan anehnya sampai detik ini ia belum memiliki kekasih. Dari banyaknya gadis yang menginginkannya, tak satupun yang menarik baginya. Bukan berarti Kyuhyun tak suka, hanya saja bayangan masa lalu selalu menghantuinya. Ia juga tidak terlalu memikirkan tentang wanita diusianya yang masih terbilang muda. Tetapi pikiran itu hanya berlaku bagi Kyuhyun, tidak untuk kedua orangtuanya. Mereka selalu menginginkan Kyuhyun agar segera menikah dengan wanita pilihannya yang sama sekali Kyuhyun tidak kenal. Berulang kali Kyuhyun menegaskan kepada orang tuanya bahwa ia akan selalu menolak rencana perjodohannya. Tapi apa daya, orang tuanya tidak akan pernah mendengarkan kemauannya. Kyuhyun menyebutnya dengan satu kata Egois. Ia kembali menyegarkan wajahnya yang kusut. Tidak akan ada ujungnya jika terus membahas keluarganya. Tangannya merapikan rambutnya yang sengaja ia basahi.

Kyuhyun berjalan meninggalkan area kamar mandi dengan wajah yang segar. Jika sudah berada di luar kelas ia akan selalu menjadi pusat perhatian banyak wanita. Tak sedikit yang memuja ketampanan juga kepandaian seorang Cho Kyuhyun. Ditambah sifat Kyuhyun yang ramah ketika ada orang yang menyebut namanya, ia akan memberikan senyum khasnya. Walau hanya sebuah senyum itu sangat berharga bagi kebanyakan wanita. Arti senyum Kyuhyun hanya sebagai balasan orang yang telah menyapanya, ia tidak peduli jika orang lain menganggapnya lebih dari itu. Tujuan kedua Kyuhyun adalah kantin, rasa bosan dan kantuknya bercampur membuatnya ingin memakan sesuatu. Ia hendak memposisikan dirinya di salah satu bangku yang kosong, namun niatnya diurungkan kala melihat gadis yang beberapa hari ini menyita pikirannya. Bukan karena Kyuhyun suka, tentu saja tidak. Hanya karena ia merasa bersalah serta belum sempat meminta maaf dan menjelaskan kejadian aslinya kepada gadis itu. Mendadak otak dan langkah kakinya menjadi satu pemikiran dengan tujuan yang sama.

Gadis itu mendongak kala merasakan telapak tangan seseorang menyentuh pelan pundaknya. Raut wajahnya menampakkan keterkejutannya kala melihat Kyuhyun berada di sebelahnya.

“Kyuhyun!”

“Ternyata dia masih mengingatku.” Kyuhyun tersenyum senang dalam hati.

“Apa yang kau lakukan disini?” Kyuhyun juga melihat kedua teman gadis itu yang tengah menatapnya. “Mereka temanmu?”

Gadis itu mengangguk mantap. “Iya, aku kuliah disini.”

“Ah begitu ya, maaf kalau boleh tau namamu siapa?” Tanya Kyuhyun dengan sedikit canggung. “Aku lupa.”

“Yuri, Kwon Yuri.” Yuri menoleh ke arah dua temannya yang telihat begitu penasaran dengan Kyuhyun. “Dan mereka temanku, Tiffany dan Joy.”

Kyuhyun mengangguk mengerti.

“Bagaimana luka di kakimu?” Kyuhyun menunjuk kaki Yuri yang sempat ia balut perban. “Kuharap sudah sembuh.”

Yuri terkekeh pelan. “Kan aku sudah pernah bilang, ini hanya luka biasa jadi pasti cepat sembuh.”

Tiffany memicingkan matanya melihat Yuri. Ia sama sekali tidak paham pembicaraan antara Yuri dan Kyuhyun. Bahkan ia baru mengetahui jika Yuri mempunyai teman pria seperti Kyuhyun. Ia semakin heran ketika Yuri membahas luka, ia tidak pernah tau Yuri sakit sampai meninggalkan bekas luka. Sepulang dari kampus, Yuri harus menjelaskan semuanya kepada Tiffany. Bagi Tiffany itu adalah sebuah kewajiban, ia tak akan pernah melewatkan sedikitpun tentang Yuri, apapun itu.

-0-

Kyuhyun keluar dari posisi kemudi dan menutup pelan pintunya. Jalannya tergesa karena beberapa menit yang lalu seseorang menghubunginya dan memberinya informasi bahwa penyakit neneknya kembali kambuh namun tidak ingin dibawa ke rumah sakit, ia hanya ingin ditemani Kyuhyun. Jika sudah mendengar hal itu apapun kondisi Kyuhyun, saat itu juga ia akan pergi, tak peduli sepenting apapun ia tetap akan menemui neneknya. Karena hanya neneknya lah yang dapat memahami perasaannya mulai kecil, memberinya kasih sayang yang seharusnya ia terima dari orang tuanya. Bahkan jika ia diberi pilihan untuk memilih antara nenek dan ibunya, jawabannya akan jatuh pada neneknya. Terlalu banyak pengorbanan neneknya yang dilakukan demi Kyuhyun. Dan saat ini yang ia inginkan adalah kesembuhan neneknya. Sebelah tangannya membuka pintu dengan tampang panik.

“Nenek!” Seru Kyuhyun.

Semua pandangan penghuni rumah tertuju di ambang pintu dimana Kyuhyun berada. Setiap tatapannya memiliki arti sendiri yang berbeda-beda. Seketika tubuh Kyuhyun membeku di tempat. Netranya menangkap sosok nenek yang sedari tadi ia khawatirkan tengah duduk di kursi roda dalam keadaan baik-baik saja. Lalu pandangannya beralih pada kedua orang tuanya yang juga menatapnya dengan beberapa orang yang tak ia kenal duduk disebelah orang tuanya. Terakhir, Kyuhyun mendapati seseorang yang namanya pernah tercatat dalam kisah hidupnya. Mendadak rahangnya mengeras. Bola matanya terasa panas. Kedua tangannya mengepal tanpa sadar. Kakinya melangkah perlahan menuju tempat neneknya. Kyuhyun mensejajarkan tubuhnya dengan posisi neneknya, lalu membawa tubuh mungil neneknya ke dalam dekapannya.

“Cho..” Neneknya membalas pelukan Kyuhyun dan membelai lembut punggungnya.

“Nenek baik-baik saja?” Tanya Kyuhyun sambil melepas pelukannya dan merengkuh wajah neneknya.

Neneknya mengangguk meyakinkan Kyuhyun. Lalu menatap Kyuhyun dengan berbagai makna yang hanya dapat dipahami oleh Kyuhyun arti tatapan itu. Kyuhyun memaksakan senyumnya walau ia tau sosok dihadapannya akan dapat mudah mengetahui arti senyumnya. Ia menghembuskan napasnya perlahan, lalu menyemangati dirinya sendiri. Setidaknya Kyuhyun harus bisa mengontrol emosinya dan menjaga sikapnya kepada tamunya malam ini, jika tidak ingin memperkeruh keadaan ataupun amukan kedua orang tuanya.

Kedua orang tuanya bernapas lega karena Kyuhyun tidak menunjukkan sikap aslinya. Mereka berharap acara perjodohan yang sudah dari dulu direncanakan akan berjalan lancar malam ini. Jika Kyuhyun tidak ingin membuat malu keluarganya, setidaknya ia harus menuruti kemauan orang tuanya untuk malam ini.

“Putramu benar-benar tampan.”

Kyuhyun hanya bisa tersenyum saat mendapat berbagai macam lantunan kalimat pujian. Bahkan orang tuanya juga terlihat bahagia karena dapat membanggakannya. Jika saja bukan karena neneknya, Kyuhyun bersumpah tidak akan pernah datang ke rumah yang terkutuk ini.

“Kyuhyun, dia adalah gadis yang akan dijodohkan denganmu, Seohyun.” Min Ah dengan bangga mengenalkan Kyuhyun kepada keluarga Seohyun.

Pandangan Kyuhyun dan Seohyun bertemu untuk beberapa saat. Hampir setahun keduanya tak saling bertemu. Terakhir adalah saat Seohyun memilih untuk mengakhiri hubungannya. Setelahnya ia benar-benar tak pernah menampakkan batang hidungnya. Walau ia tau bahwa Kyuhyun mencarinya dan sangat ingin menjelaskan kebenaran tentang semua isu yang tersebar dengan harapan Seohyun akan kembali padanya. Tapi apa yang didapat Kyuhyun, Seohyun sama sekali tak ingin menemuinya. Bahkan beberapa barang yang sengaja Kyuhyun tinggal di meja Seohyun dengan niatan meminta maaf pun, Seohyun membuang semuanya didepan mata Kyuhyun. Mulai detik itupun rasa cinta Kyuhyun berubah menjadi kebencian yang teramat dalam. Dan mengubah pemahamannya tentang sosok wanita yang sesungguhnya.

Kyuhyun mengalihkan pandangannya dengan sinis. Ia tak tahan melihat tampang polos Seohyun yang ditutupi dengan topeng. Tak adakah wanita lain yang lebih baik daripada Seohyun, hingga orang tuanya menjodohkan dirinya dengan wanita kejam itu. Seharusnya ia tidak selalu melimpahkan kesalahan kepada orang tuanya. Wanita dihadapannya itu juga patut disalahkan, karena yang sebenarnya adalah Seohyun tidak pernah mau untuk dijodohkan dengannya. Bukankah Kyuhyun adalah seorang Gay  yang tak seharusnya menikah dengan seorang wanita. Rasanya ia ingin tertawa di depan wajah Seohyun, menertawakan kebodohan wanita itu karena telah memilihnya.

Sedangkan Seohyun terus menundukkan kepalanya dengan memainkan kedua tangannya. Setelah bertatap muka dengan Kyuhyun membuat nyalinya mengecil. Ia sangat tau bagaimana perasaan Kyuhyun saat ini, kalaupun ia tersenyum, kebanyakan orang akan menyebutnya fake smile. Dari awal Seohyun tau bahwa yang akan dijodohkan dengannya adalah Cho Kyuhyun. Bukankah itu adalah kesempatan emas untuknya kembali memperbaiki hubungannya dengan Kyuhyun. Walaupun melihat wajah Kyuhyun yang begitu jelas membencinya, tak akan membatalkan rencana perjodohan ini. Seohyun sadar tak sepantasnya ia berbuat seperti ini kepada Kyuhyun, mengingat dulu ia telah berlaku kejam kepada mantan kekasihnya itu. Tapi itu tak membuat Seohyun merasakan penyesalan sedikitpun, karena baginya masa lalu hanyalah masa lampau dengan kenangan yang sepatutnya untuk dilupakan, entah itu kenangan terindah ataupun terburuk sekalipun. Dan sekarang adalah waktunya untuk merubah masa lalu itu menjadi lebih baik, tak peduli apapun rintangannya, ia akan mendapatkan Kyuhyun kembali.

-0-

Tiffany tak sedetikpun melepas pandangannya dari Yuri. Ia ingin menagih hutang penjelasan mengenai pembicaraan Yuri dengan pria tadi yang sebelumnya tak pernah ia kenal. Dan apa yang didapat Tiffany setelah menunggu lama, Yuri sama sekali tak meresponnya bahkan hanya untuk meliriknya pun tidak. Gadis di sampingnya itu tengah berkonsentrasi dengan kemudi mobilnya, walau sebenarnya ia menyadari Tiffany yang terus menatapnya penasaran. Tiffany semakin mengerucutkan bibirnya dengan hembusan napas yang terdengar kasar.

“Apakah dia benar-benar tidak ingin menjelaskan padaku walau hanya sedikit? Senang sekali dia membuat sahabatnya penasaran!”   Batin Tiffany yang terlanjur kesal dengan kelakuan Yuri.

Yuri tertawa dalam hati, ia tak sanggup jika akan menoleh dan melihat wajah Tiffany yang mungkin sudah berubah menjadi kusut. Tak ada niatan bagi Yuri untuk menyembunyikan semua masalahnya karena apapun yang terjadi Tiffany adalah satu-satunya orang yang akan selalu ada saat ia membutuhkannya ataupun tidak, jadi Tiffany berhak tau semua yang terjadi padanya. Hanya saja saat ini Yuri akan pergi ke suatu tempat dan ia tak bisa jika mengajak Tiffany karena khusus hal yang satu ini ia tak ingin siapapun mengetahuinya apalagi sampai membuat orang terdekatnya merasa direpoti. Yuri menghentikan mobilnya tepat di depan gerbang rumah Tiffany. Matanya melirik Tiffany memberikan kode kepada gadis itu untuk segera turun dari mobilnya. Dengan perasaan berkecamuk, Tiffany bergegas membuka pintu mobil dan menutupnya dengan kasar. Senyum Yuri melebar ditemani lambaian tangannya. Perlahan mobilnya berjalan meninggalkan Tiffany. Netranya mengintip spion mobil dan terkekeh pelan mendapati Tiffany dengan raut muka kusutnya. Sedetik kemudian Yuri mempercepat laju mobilnya ke rumah sakit yang dituju.

Tak butuh waktu lama, Yuri sudah tiba di rumah sakit. Hanya dengan menunjukkan identitas dirinya sangat mudah bagi Yuri untuk mendapat yang diinginkannya. Salah satu petugas rumah sakit membawa Yuri ke ruang referensi. Lalu menunjukkan letak berkas yang ia cari.

“Ini adalah dokumen-dokumennya.”

Yuri tersenyum. “Terima kasih..”

Sebelah tangannya langsung mengambil salah satu dokumen dan membacanya sekilas. Hingga beberapa dokumen yang ia baca, tak satupun yang sesuai dengan harapannya.

“Seseorang sudah memeriksa semua dokumen itu sebelumnya.” Jelas petugasnya.

Yuri terdiam, kegiatannya membolak-balikkan berkas sejenak terhenti.

“Siapa?”

“Maaf saya kurang tau, karena tadi teman saya yang bertugas.”

Yuri menatap serius dokumen-dokumen di hadapannya. Pikirannya bekerja menduga siapa yang melakukan semua ini. Pertama foto misterius itu, kedua berkas yang ia cari menghilang bertepatan saat Yuri membutuhkannya. Bahkan ia tak tau hubungan apa yang membuat dirinya terikat dalam kasus ini. Dan itu semakin membuat penasaran akut bagi seorang Kwon Yuri. Ia harus segera menemukan titik terangnya dan tak akan menyerah sampai detik ini.

-TBC-

Keep RCL^^

Advertisements